DINKES BANGKA LAKSANAKAN PENGUKURAN DAN PUBLIKASI DATA STUNTING SEBAGAI BENTUK AKSI 7 KONVERGENSI PENURUNAN STUNTING TAHUN 2022
Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka sebagai penanggung jawab pengukuran dan publikasi stunting, telah melakukan pengukuran status gizi terutama stunting pada balita. Kegiatan pengukuran panjang badan atau tinggi badan bersamaan dengan bulan penimbangan balita (dan distribusi kapsul vitamin A) di bulan Agustus 2022. Hasil pengukuran tinggi badan balita diinput dalam aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) SIGIZI Terpadu yang di entry oleh petugas gizi puskesmas di Kabupaten Bangka, apabila ada data yang bermasalah gizi di konfirmasi dan divalidasi oleh petugas puskesmas dan Dinas Kesehatan. Selain data status gizi balita juga diinput data riwayat tindakan terhadap balita yang bermasalah gizi, kemudian di analisa faktor faktor determinan penyebab masalah gizi untuk diintervensi sesuai penyebabnya.
Pengukuran status gizi dan publikasi angka stunting merupakan Aksi ke 7 dalam 8 Aksi konvergensi percepatan penurunan stunting. Pengukuran dan publikasi angka stunting adalah upaya Kabupaten Bangka untuk memperoleh data prevalensi stunting terkini pada skala layanan puskesmas, kecamatan, dan desa. Hasil pengukuran tinggi badan anak di bawah lima tahun serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan bersama penurunan stunting.
Berdasarkan hasil pengukuran status gizi balita pada bulan Agustus 2022 di Kabupaten Bangka melalui aplikasi e PPGBM secara by name by address dari sasaran balita sebesar 26.349 anak dengan jumlah balita yang diukur antropometri sebanyak 24. 554 ( 93,18 %) didapatkan prevalensi angka stunting pada balita sebesar 1.34% ( 329 anak), sedangkan prevalensi stunting baduta (dibawah dua tahun) sebesar 1.43% (99 anak). (sumber data e PPGBM di unduh tanggal 02 Oktober 2022)
Dari 62 desa dan 19 kelurahan di 8 kecamatan Kabupaten Bangka, prevalensi stunting pada balita semuanya dibawah 20% atau berada di batas kategori aman ( ≥ 20% kronis) yang berarti tidak memiliki masalah kesehatan masyarakat, desa dengan kategori sedang (prevalensi 10-20%) sebanyak 0%, kategori ringan dengan prevalensi 5-10% sebanyak 6.17% dan kategori sangat ringan (93.83%) namun data ePPGBM akan berubah setiap hari dan bulan karena bersifat dinamis. .
Untuk mengetahui Faktor determinan penyebab stunting dapat dianalisa dari riwayat tindakan atau faktor penyebab yang mempengaruhi terjadinya stunting pada anak. Adapun faktor determinannya adalah dari 277 balita yang bermasalah gizi tertinggi faktor determinannya adalah ada anggota rumah tangga yang merokok sebanyak 233 orang (84.12%), 134 anak (48.37%) tidak memiliki Jaminan Kesehatan, 29 ibu balita (10.70%) sewaktu hamil mengalami KEK, 17 balita (6.16%) belum Imunisasi lengkap, 6 balita ( 2.53%) pernah mengalami kecacingan, 5 balita (1.79%) tidak mempunyai jamban sehat dan 2 balita (0.72%) tidak ada air bersih.
Informasi hasil pengukuran status gizi balita telah didiseminasikan dan dipublikasikan pada saat pertemuan diseminasi hasil surveilans gizi melalui ePPGBM kepada lintas program dan lintas sektor pada tanggal 18 Oktober 2022 serta diinformasikan pada saat Monitoring Evaluasi terintegrasi Tim Percepatan Penurunan Stunting(TPPS) Kabupaten Bangka di 11 desa lokus dan 4 Kecamatan di Kabupaten Bangka pada tanggal 21 September sampai 11 Oktober 2022.
Diharapkan hasil pengukuran status gizi terutama prevalensi stunting balita di diseminasikan juga pada setiap pertemuan baik pada saat SMD, mini lokakarya bulanan dan pertemuan lintas program maupun lintas sector OPD terkait, serta dipublikasi juga melalui saluran informasi media elektronik maupun media sosial baik di tingkat kabupaten, kecamatan, puskesmas dan desa yang ada di Kabupaten Bangka sehingga dapat menjadi dasar penyusunan perencanaan program kegiatan terkait stunting yang akan dilaksanakan selama tahun berjalan maupun tahun berikutnya, menggalang kerja sama dan koordinasi antar-petugas Puskesmas (lintas program), dan meningkatkan motivasi petugas petugas Puskesmas dalam pelaksanaan integrasi kegiatan stunting dengan OPD terkait penurunan stunting.
(Sumber Seksi Gizi Dinkes)
Tuliskan komentar anda :